Proses pengambilan keputusan.
Kontoversi partisipasi keputusan
Argumentasi pro
Banyak ahli riset dan manager yang percaya bahwa sebagian
besar organisasi
Banyak penelitian dan pendapat tentang isyu ini. Untuk tinjauan yang
komprehensif,V.H Vroom dan P.W. yetton , leadership and Decision marking (Pittsburgh:
university of pittburgh press, 1973);
Dan P Blumberg , industrial Democary: The Sociology of participation (New York:
Schocken books, 1974) lihat juga J.W.
Discoll ,” Trust and participation in Organizational Decision Marking as
Predictors of satisfaction.” Academy of
management journal, maret 1978, Halaman, 44-56; dan R.S.Sculer,”A Role and
Expectancy perception model of participation in Decision marking,” Academy
of management Journal, juni 1980,hal. 331-40.
Ingin memperoleh kesempatan untuk
berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan .
Semakin besar partisipasi
dalam pengambilan keputusan akan
meningkatkan keiketan kepada organisasi, keputusan kerja,pertumbuhan dan perkembangan
pribadi , serta sikap menerima perubahan.
Tipe Keputusan.
Para manajer merupakan
penanggung jawab utama atas hasil sebuah keputusan.
Keputusan yang deprogram
Keputusan
yang deprogram merupakan prosedur khusus
yang dikembangkan untuk menanggulangi
berbagai macam masalah rutin dan
yang terjadi berulang-ulang.
Berbagai cara untuk mengklarifikasikan tipe keputusan yang berbeda , sebagian besar system klarifikasi
ini serupa: perbedaanya hanya terletak pada
terminology. Ini diusulkan oleh Herbert Simon.
1. Keputusan yang deprogram . jika terjadi sebuah situasi istimewa , seringkali prosedur
rutin digunakan untuk menyelesaikannya,
oleh karena itu Keputusan deprogram hingga
bersifat rutin dan terjadi berulang-ulang dan kemudian
dikembangkan prosedur yang pasti untuk menanggulanginya.
Keputusan yang tidak deprogram
Banyak
masalah manajemen yang unik dan kompleks. Masalah semacam itu merupakan
keputusan yang tidak deprogram.
2. Keputusan yang tidak deprogram. Keputusan tidak akan deprogram
jika sifatnya baru dan tidak tersetruktur. Oleh karena itu , tidak ada prosedur
tertentu.
Proses pengambilan
keputusan:
Keputusan
Keputusan merupakan
suatu sarana untuk mencapai hasil atau untuk memecahkan masalah. Hasilsebuah proses yang dipengaruhi oleh berbagai factor disebut Keputusan.
Keputusan Harus dianggap lebih sebagai cara ketimbang sebagai tujuan . keputusan merupakan mekanisme organisasi untuk melakukan upaya mencapai keadaan yang diinginkan .Yang dimaksut keputusan adalah Tanggapan Organisasi atas sebuah Masalah.
Bahwa keputusan yang tidak di program lebih dapat diterapkan dari pada keputusan yang deprogram. Masalah yang sering terjadi banyaknya ketidak pastian Mengharuskan Manajer untuk mendayagunakkan seluruh proses.
Menetapkan Tujuan dan sasaran khusus Serta mengukur Hasilnya.
Organisasi Memerlukan tujuan dan sasaran dalam setiap bidang dimana prestasi mempengaruhi keefektifan organisasi.Jika sasaran dan tujuan sudah ditetapkan secukupnya maka dapat ditentukan hasil yang harus dicapai dan ukuran dan akan menunjukkan apakah hasil tadi sudah tercapai atau tidak.
Gambar.
Mengidentivikasi Masalah
Kondisi yang diperlukan bagi suatu keputusan ialah Adanya masalah. Jikan tidak terdapat masalah , maka Tidak ada gunanya mengambil Keputusan. Hal ini menekankan betapa pentingnya penetapkan tujuan dan sasaran. Masalah timbul Jika terdapat kesengajaan antara hasil yang diinginkan dengan hasil Aktual. Akan tetapi Faktor-faktor seringkali menyebabkan kesulitan untk mengidentivikasi. Faktor-faktor tersebut ialah:
Masalah Persepsi
Masalah persepsi melindungi atau mempertahankan kita dari persepsi tidak menyenangkan. Sebagai contoh: Seorang dengan perguruan tinggi tidak berhasil mengidentivikasikan peningkatan ukuran kelas sebagai sebuah masalah,pada saat bersamaan dia merasa peka terhadap masalah yang dihadapi oleh rector universitas dalam mengumpilkan dana bagi perguruan tinggi.
Menetapkan Masalah dalam kaitannya dengan pemecahanya.
Menetapkan Masalah dalam kaitannya dengan pemecahanya ini sebenarnya merupakn bentuk pengambilan kesimpulan yant tergesah-gesah. Contohnya : Seorang manajer penjualan mungkin berkata bahwa “ Turunya keuntungan disebabkan rendahnya mutu produk kami”.
Mengidentivikasi Gejala sebagai Masalah.
"Masalah kami ialah Kemrosotan sebesar 32% dibidang pesanan.” Kemrosotan itu merupakkan gejala masalah, dan Penyebab Kemrosotan akan ditemukan. BIasanya, Masalah itu terdiri atas 3 tipe yaitu: Peluang,Krisis,atau Rutin. Masalah krisis dan Rutin biasanya Muncil dengan sendirinya dan itu harus di perhatikan. Sebaliknya Peluang biasanya harus ditemukan.
Mengembangkan Alternatif
Sebelum keputusan diambil , Harus dikembangkan Kemungkinan alternative dan Kosekuensi Potensial. Setiap Alternatif harus dipertimbangkan .Proses pengkaji lingkungan intern dan ekstern guna untuk menyediakan Informasi. Wiraniaga kurang terlatih penyebab merosotnya penjualan.
Mengevaluasi Alternatif.
Alternatif itu harus dievaluasi dan dipertimbangkan.Tujuan untuk mengambil Keputusan ialah menyeleksi yang akan membuahkan hasil yang paling disukai dan hasil yang kurang disukai. Pengambilan keputusan harus berpedoman pada tujuan dan sarana yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Hubungan Hasil alternative didasarkan pada tiga kondisi kemungkinan, yakni:
1.Kepastian.
2.Ketidak Pastian.
3.Resiko.
Memilih sebuah Alternatif.
Tujuan menyeleksi Sebauh Alternatif ialah Untuk memecahkan masalah guna mencapai sasaran yang sudah ditetapkan sebelumnya.Segi ini sangat penting. Bahwa Keputusan bukan merupakan Tujuan , Melainkan hanya cara mencapai tujuan.
Dapat juga terjadi situasi dimana tujuan perusahaan mencapai dengan mengorbankan tujuan masyarakat. Realita semacam itu jelas terlihat dari semakin banyaknya jumlah kelompok ekologi , pecinta lingkungan hidup, dan gerakan konsumen. Jadi pengambilan keputusan bukanlah seorang yang mengoptimumkan , melainkan seorang yang berusaha memuaskan yang memilih Alternatif untuk memenuhi standar yang dapat diterima..
Memilih Sebuah Alternatif.Tujuan menyeleksi Sebauh Alternatif ialah Untuk memecahkan masalah guna mencapai sasaran yang sudah ditetapkan sebelumnya.Segi ini sangat penting. Bahwa Keputusan bukan merupakan Tujuan , Melainkan hanya cara mencapai tujuan.
Dapat juga terjadi situasi dimana tujuan perusahaan mencapai dengan mengorbankan tujuan masyarakat. Realita semacam itu jelas terlihat dari semakin banyaknya jumlah kelompok ekologi , pecinta lingkungan hidup, dan gerakan konsumen. Jadi pengambilan keputusan bukanlah seorang yang mengoptimumkan , melainkan seorang yang berusaha memuaskan yang memilih Alternatif untuk memenuhi standar yang dapat diterima.
Melaksanakan Keputusan.
Setiap keputusan menyerupai sebuah abstraksi jika tidak dilaksanakkan. Keputusan harus dilaksanakan secara Efektif untuk mencapai tujuan keputusan yang baik “bagus” dan menjadi rusak karena pelaksanaannya yang tidak baik. Tugas Seorang manajer bukan hanya memilih cara pemecahan yang baik tetapi juga mengubah pemecahan tersebut menjadi perilaku Organisasi. Dengan cara Berkomunikasi secara efektif dengan individu serta kelompok.
Pengendalian dan Evaluasi.
Manajemen yang Efektif mencakup upaya pengukuran hasil secara berkala. Hasil yang actual dibandingkan Hasil yang direncanakan(sasaran), dan jika terdapat penyimpangan , maka harus diadakan perubahan. Jika sasaran semula harus diubah , maka keseluruhan proses pengambilan keputusan harus dilakukan kembali. Segi yang peting adalah Bahwa jika sebuah keputusan sudah dilaksanakan , seorang manajer tidak dapat berasumsi bahwa hasilnya akan memenuhi sasaran semula. Diperlukan system pengendalian dan evaluasi untuk menjamin Hasil Aktual konsisten dengan hasil yang direncanakan.
ames L.Gibson,John M.ivancevich,James
H.Donnelly,jr.(1985).Editor(Agus
Dharma,SH.,M.Ed.(1993).Organisasi(Organizations,5th
Edition).Jakarta10430:(Anggota IKAPI)Erlangga.


No comments:
Post a Comment